Pertemuan di Tahrir (AAC Page 6)


Pertemuan di Tahrir

Jam 10.10 aku sampai di mahattah metro bawah tanah Maydan Tahrir. Sesuai dengan janji, kami akan bertemu di jalur metro menuju Giza Suburban. Tempatnya lebih nyaman. Lebih indah. Aku mencari tempat duduk yang paling mudah dilihat. Janjinya tepat setengah sebelas. Aku datang dua puluh menit lebih awal. Sambil menunggu aku membaca kembali bahan khutbah yang telah kupersiapkan. Keadaan mahattah tidak terlalu ramai. Menjelang shalat Jum’at seperti ini biasanya memang agak lengang. Seorang polisi bersiaga dengan senjata di pinggang. Petugas kebersihan berseragam menyapu pelan-pelan. Seorang perempuan berjubah hitam bercadar hitam datang. Kukira dia Aisha, ternyata bukan. Perempuan itu tidak melihat ke arahku sama sekali. Begitu metro datang, ia langung naik dan hilang.

Sudah pukul sebelas Aisha belum juga datang. Aku akan menunggu sampai seperempat jam ke depan jika ia tidak datang aku akan langsung pergi ke Dokki. Pukul sebelas lima menit ada seorang perempuan berabaya cokelat tua dengan jilbab dan cadar di kepalanya. Ia melangkah tergesa ke arahku. Ia mengucapkan salam dan aku menjawabnya.

“Nehmen Sie platz!” (Silakan duduk) kupersilakan dia duduk.

“Danke schon.”(Terima kasih banyak) Selorohnya sambil bergerak duduk di samping kananku.

“Bitte.”(Kembali) Aisha melihat jam tangannya.

Dia minta maaf datang terlambat. Aku hanya tersenyum. Kami lalu mulai berbincang-bincang. Aisha memilih pakai bahasa Jerman.

“Wo ist Alicia?”(Di mana Alicia?) Tanyaku karena aku tidak juga melihat bule Amerika itu datang.

“Insya Allah, dia akan datang sepuluh menit lagi. Dia sedang dalam perjalanan dari wawancara dengan Ibrahem Nafe’, Pemimpin Redaksi Harian Ahram.”

Aku bisa memaklumi, namun aku perlu menjelaskan padanya bahwa tepat setengah dua belas aku harus meninggalkan Tahrir. Sekali lagi Aisha minta maaf atas keterlambatannya dan keterlambatan Alicia. Dalam hati aku senang, bahwa memang perlu sekali-kali orang Barat minta maaf pada orang Indonesia, karena mereka datang tidak tepat waktu. Makanya, jangan main-main dengan murid Syaikh Utsman yang terkenal disiplin.

“Semoga lima belas menit cukup bagi Alicia untuk mendapatkan jawaban atas ketidaktahuannya akan Islam,” kata Aisha dengan nada sedikit menyesal.

“Sebetulnya saya senang diajak berbincang untuk menjelaskan keindahan Islam. Tapi kali ini saya ada jadwal khutbah. Maafkan saya.”

“Kalau waktunya tidak cukup, anggaplah ini pertemuan pengantar saja. Semoga Anda tidak keberatan seandainya Alicia minta waktu lagi, entah kapan.”

“Insya Allah. Dengan senang hati.”

Aisha lalu bertanya-tanya tentang saya. Tentang Indonesia. Tentang Jawa. Dia pun sempat sedikit mengenalkan dirinya. Dia baru empat bulan di Cairo. Tujuannya untuk belajar bahasa Arab dan memperbaiki bacaan Al-Qur’annya. Di Jerman ia sudah tingkat akhir Fakultas Psikologi. Ayahnya asli Jerman. Ibunya asli Turki. Dari ibunya ia memiliki darah Palestina. Sebab neneknya atau ibu ibunya adalah wanita asli Palestina. Ibunya bilang, neneknya lahir di Giza. Aku bertanya sejak kapan memakai jilbab dan cadar. Ia menjawab memakai jilbab sejak SMP dan memakai cadar sejak tiba di Mesir, mengikuti bibinya. Sementara ia memang tinggal di Maadi bersama bibi dan pamannya. Bibinya sedang S.2. di Kuliyyatul Banat Universitas Al Azhar, beliau adik bungsu ibunya. Sedangkan pamannya sedang S.3., juga di Al Azhar. Aku mengenal beberapa orang Turki yang ada di program pascasarjana. Aku teringat sebuah nama.

“Aku kenal seorang mahasiswa Turki. Dia cukup akrab denganku. Dia pernah bilang tinggal di dekat Kentucky Maadi, mungkin pamanmu kenal,” kataku.

“Dekat Kentucky? Siapa namanya? Coba nanti aku tanyakan pada paman,” Aisha penasaran.

“Namanya Eqbal Hakan Erbakan?”

“Siapa?”

“Eqbal Hakan Erbakan.”

“La ilaaha illallah!”

“Kenapa?”

“Itu pamanku.”

“So ein zufall!(Sungguh suatu kebetulan) ”

“Dunia begitu sempit bukan? Tak kukira kau kenal pamanku.”

“Sampaikan salamku untuknya. Katakan saja dari Fahri Abdullah Shiddiq, teman i’tikaf di masjid Helmeya Zaitun tahun lalu. Juga sampaikan salamku pada bibimu dan kedua puteranya yang lucu; Amena dan Hasan.”

“Insya Allah dengan senang hati. Dari kejauhan aku melihat seorang perempuan bule datang. “Apakah dia Alicia?”

“Kelihatannya.”

Penampilannya memang berbeda dengan waktu aku melihatnya di metro dua hari yang lalu. Sekarang tampak lebih sopan. Memakai hem lengan panjang. Tidak kaos ketat dengan bagian perut terlihat. Ia menyapa kami dengan tersenyum. Aisha menjelaskan waktu yang ada sangat sempit, karena jam setengah dua belas aku harus cabut ke Masjid Indonesia di Dokki. Alicia bisa mengerti dan minta maaf atas keterlambatan. Ia langsung membuka dengan sebuah pertanyaan,

“Begini Fahri, di Barat ada sebuah opini bahwa Islam menyuruh seorang suami memukul isterinya. Katanya suruhan itu terdapat dalam Al-Qur’an. Ini jelas tindakan yang jauh dari beradab. Sangat menghina martabat kaum wanita. Apakah kau bisa menjelaskan masalah ini yang sesungguhnya? Benarkah opini itu, atau bagaimana?”

Aku menghela nafas panjang. Aku tidak kaget dengan pertanyaan Alicia itu. Opini yang sangat mendiskreditkan itu memang seringkali dilontarkan oleh media Barat. Dan karena ketidakmengertiannya akan ajaran Islam yang sesungguhnya banyak masyarakat awam di Barat yang menelan mentah-mentah opini itu. Dengan kemampuan yang ada aku berusaha menjelaskan sebenarnya. Aku berharap Alicia bisa memahami bahasa Inggrisku dengan baik,

“Tidak benar ajaran Islam menyuruh melakukan tindakan tidak beradab itu. Rasulullah Saw. dalam sebuah haditsnya bersabda, ‘La tadhribu imaallah!’(Hadits shahih diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Nasai dan Ibnu Majah) Maknanya, ‘Jangan kalian pukul kaum perempuan!’ Dalam hadits yang lain, beliau menjelaskan bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah yang berbuat baik pada isterinya.(Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dan Ibnu Hibban) Dan memang, di dalam Al-Qur’an ada sebuah ayat yang membolehkan seorang suami memukul isterinya. Tapi harus diperhatikan dengan baik untuk isteri macam apa? Dalam situasi seperti apa? Tujuannya untuk apa? Dan cara memukulnya bagaimana? Ayat itu ada dalam surat An-Nisa, tepatnya ayat 34:

“Sebab itu, maka Wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu kuatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka dari tempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Mahatinggi lagi Mahabesar.”

Jadi seorang suami diperbolehkan untuk memukul isterinya yang telah terlihat tanda-tanda nusyuz.”

Alicia menyela, “Nusyuz itu apa?”

“Nusyuz adalah tindakan atau perilaku seorang isteri yang tidak bersahabat pada suaminya. Dalam Islam suami isteri ibarat dua ruh dalam satu jasad. Jasadnya adalah rumah tangga. Keduanya harus saling menjaga, saling menghormati, saling mencintai, saling menyayangi, saling mengisi, saling memuliakan dan saling menjaga. Isteri yang nusyuz adalah isteri yang tidak lagi menghormati, mencintai, menjaga dan memuliakan suaminya. Isteri yang tidak lagi komitmen pada ikatan suci pernikahan. Jika seorang suami melihat ada gejala isterinya hendak nusyuz, hendak menodai ikatan suci pernikahan, maka Al-Qur’an memberikan tuntunan bagaimana seorang suami harus bersikap untuk mengembalikan isterinya ke jalan yang benar, demi menyelamatkan keutuhan rumah tangganya. Tuntunan itu ada dalam surat An-Nisaa ayat 34 tadi. Di situ Al- Qur’an memberikan tuntunan melalui tiga tahapan,

Pertama, menasihati isteri dengan baik-baik, dengan kata-kata yang bijaksana, kata-kata yang menyentuh hatinya sehingga dia bisa segera kembali ke jalan yang lurus. Sama sekali tidak diperkenankan mencela isteri dengan kata-kata kasar. Baginda Rasulullah melarang hal itu. Kata-kata kasar lebih menyakitkan daripada tusukan pedang.

Jika dengan nasihat tidak juga mempan, Al-Qur’an memberikan jalan kedua, yaitu pisah tempat tidur dengan isteri. Dengan harapan isteri yang mulai nusyuz itu bisa merasa dan interospeksi. Seorang isteri yang benar-benar mencintai suaminya dia akan sangat terasa dan mendapatkan teguran jika sang suami tidak mau tidur dengannya. Dengan teguran ini diharapkan isteri kembali salehah. Dan rumah tangga tetap utuh harmonis.

Namun jika ternyata sang isteri memang bebal. Nuraninya telah tertutupi oleh hawa nafsunya. Ia tidak mau juga berubah setelah diingatkan dengan dua cara tersebut barulah menggunakan cara ketiga, yaitu memukul.

Yang sering tidak dipahami oleh orang banyak adalah cara memukul yang dikehendaki Al-Qur’an ini. Tidak boleh sembarangan. Suami boleh memukul dengan syarat:

Pertama, telah menggunakan dua cara sebelumnya namun tidak mempan. Tidak diperbolehkan langsung main pukul. Isteri salah sedikit main pukul. Ini jauh dari Islam, jauh dari tuntunan Al-Qur’an. Dan Islam tidak bertanggung jawab atas tindakan kelaliman seperti itu.

Kedua, tidak boleh memukul muka. Sebab muka seseorang adalah segalanya bagi manusia. Rasulullah melarang memukul muka.

Ketiga, tidak boleh menyakitkan. Rasulullah Saw. bersabda, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam masalah perempuan (isteri). Mereka adalah orang-orang yang membantu kalian. Kalian punya hak pada mereka, yaitu mereka tidak boleh menyentuhkan pada tempat tidur kalian lelaki yang kalian benci. Jika mereka melakukan hal itu maka kalian boleh memukul mereka dengan pukulan yang tidak menyakitkan (ghairu mubrah). Dan kalian punya kewajiban pada mereka yaitu memberi rizki dan memberi pakaian yang baik.’(Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya) Para ulama ahli fiqih dan ulama tafsir menjelaskan kriteria ‘ghairu mubrah’ atau ‘tidak menyakitkan’ yaitu tidak sampai meninggalkan bekas, tidak sampai membuat tulang retak, dan tidak di bagian tubuh yang berbahaya jika kena pukulan.

Dengan menghayati benar-benar kandungan ayat suci Al-Qur’an itu dan makna hadits-hadits Rasulullah itu akan jelas sekali seperti apa sebenarnya ajaran Islam. Apakah seperti yang dituduhkan dan diopinikan di Barat yang menghinakan wanita? Apakah tuntunan mulia seperti itu, yang bertujuan menyelamatkan bahtera rumah tangga karena ada gejala isteri hendak nusyuz, tidak lagi bersahabat pada suaminya, hendak menodai ikatan suci pernikahan dianggap tiada beradab?

Kapan seorang suami diperbolehkan memukul? Pada isteri macam apa? Syaratnya memukulnya apa saja? Tujuannya apa? Itu semua haruslah diperhatikan dengan seksama. Memukul seorang isteri jahat tak tahu diri dengan pukulan yang tidak menyakitkan agar ia sadar kembali demi keutuhan rumah tangga, apakah itu tidak jauh lebih mulia daripada membiarkan isteri berbuat seenak nafsunya dan menghancurkan rumah tangga?

Ya inilah ajaran Islam dalam mensikapi seorang isteri yang berperilaku tidak terpuji. Islam sangat memuliakan perempuan, bahwa di telapak kaki ibulah surga anak lelaki. Hanya seorang lelaki mulia yang memuliakan wanita. Demikian Islam mengajarkan.”

Rasanya sudah cukup panjang aku menjelaskan. Alicia tampak mengangguk-anggukkan kepala. Sekilas kulihat mata Aisha berkaca-kaca. Entah kenapa. Sebenarnya aku ingin memaparkan ratusan data tentang perlakuan tidak manusiawi orang-orang Eropa pada isteri-isteri mereka. Namun kuurungkan. Biarlah suatu saat nanti sejarah sendiri yang membeberkan pada Alicia dan orangorang seperti Alicia. Di Inggris, beberapa abad yang lalu isteri tidak hanya boleh dipukul tapi boleh dijual dengan harga beberapa poundsterling saja. Ada seorang Perdana Menteri Jepang yang mengatakan bahwa cara terbaik memperlakukan wanita adalah dengan menamparnya. Dengan bangga Perdana Menteri itu mengaku sering menampar isteri dan anak perempuannya. Ia bahkan menasihati suami puterinya agar tidak segan-segan menampar isterinya. Untungnya Inggris dan Jepang bukan negara yang mayoritas penduduknya muslim. Jika mereka negara Islam atau mayoritas penduduknya muslim pastilah protes keras atas perlakuan tidak beradab pada perempuan itu akan datang bagaikan gelombang badai.

Aku menengok jam tangan. Pukul 11.35.

“Maaf. Aku harus pergi sekarang. Aku sudah terlambat lima menit dari rencana,” ucapku pada Alicia dan Aisha sambil bangkit dari duduk.

“Dari jawaban yang kau berikan aku mendapatkan masukan yang sama sekali baru aku mengerti. Sebenarnya masih ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepadamu.Tentang Islam memperlakukan perempuan. Tentang Islam memperlakukan non-Islam. Tentang Islam dan perbudakan dan lain sebagainya. Dan aku berharap akan mendapatkan jawaban yang baik dalam perspektif yang adil,” Alicia mengungkapkan harapannya.

“Saya senang berjumpa dengan orang seperti Anda Nona Alicia. Sebisa mungkin saya akan memenuhi harapan Anda itu, insya Allah. Tapi terus terang, bulan ini saya sangat sibuk. Saya harus komitmen dengan jadwal yang telah ada. Anda tentu bisa memaklumi. Apalagi saya sedang menyelesaikan magister saya. Jadi terus terang saya akan berusaha mencuri-curi waktu. Saya ada ide. Bagaimana kalau semua pertanyaan yang ingin Anda sampaikan, Anda tulis saja dalam sebuah kertas. Anda print. Dan nanti serahkan pada saya. Saya akan menjawabnya di sela-sela waktu senggang saya. Jika sudah terjawab semua akan saya serahkan kembali pada Anda. Lalu kita bertemu dalam suatu tempat dan kita diskusikan masalah yang belum clear. Bagaimana?”

“Saya kira ini ide yang bagus. Saya akan tuliskan pertanyaan saya secepatnya. Dalam dunia jurnalistik wawancara tertulis lazim juga digunakan. Terus bagaimana kita bisa bertemu lagi. Meskipun cuma sebentar untuk menyerahkan pertanyaan-pertanyaan saya itu?”

Aku berpikir sesaat. Mengingat jadwal aku keluar.

“Anda sekarang tinggal di mana?” tanyaku setelah aku ingat jadwal keluar dari Hadayek Helwan dalam waktu dekat.

“Saya menginap di Nile Hilton Hotel.”

“Sampai kapan?”

“Kira-kira masih sembilan hari di Mesir.”

“Baik. Bagaimana kalau kita berjumpa besok Senin, tepat pukul sebelas pagi?”

“Okey. Di mana?”

“Di kafetaria National Library. Letaknya di Kornes Nil Street tak jauh dari hotel Anda. Semua orang Mesir di hotel Anda, yang Anda tanya pasti tahu.”

“Baiklah.”

“Aku boleh datang ‘kan?” sela Aisha.

“Tentu saja,” jawabku dan Alicia hampir bersamaan.

“Kalau begitu aku pamit dulu. Bye!”

Aku beranjak pergi meninggalkan keduanya tepat pada saat sebuah metro dari Shubra El-Khaima datang. Perlahan berhenti. Perlahan-lahan terbuka. Kutunggu orang-orang yang turun habis. Baru aku naik. Ada banyak tempat duduk kosong. Aku pilih paling dekat. Duduk melihat ke arah jendela. Masinis membunyikan tanda. Ding dung…ding dung! Tanda metro sebentar lagi berjalan.

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang perempuan menyapaku dengan bahasa Arab minta izin duduk,

“Hal tasmahuli an ajlis!” Aku menengok ke asal suara. Perempuan bercadar. Aisha! Aku sedikit kaget.

Aku menggeser tempat dudukku. Aisha duduk di sampingku.

“Mau ke mana?” tanyaku.

Kali ini kami berbincang dalam bahasa Arab. Aku berusaha menggunakan kalimat-kalimat fusha yang mudah dipahami olehnya. Kuhindari bahasa ‘amiyah sama sekali.

“Aku perlu ikut kamu ke Masjid Indonesia,” jawabnya.

“Untuk apa?” Metro mulai berjalan.

Dua menit lagi metro akan melintas di bawah sungai Nil. Sayangnya pemandangan di luar jendela hanya gelap berseling cahaya lampu neon menempel di dinding terowongan.

“Aku ingin tahu komunitas orang Indonesia di Mesir. Siapa tahu aku bisa dapat bahan untuk tesis psikologi sosial S.2.-ku kelak. Aku lagi melengkapi data tentang masyarakat Jawa. Jadi mumpung ada kesempatan. Aku tidak akan melewatkan begitu saja. Siapa tahu nanti di masjid ada mahasiswi atau muslimah Indonesia, aku bisa kenalan. Dan besok-besok jika aku ada perlu, bisa datang sendiri.”

“O, begitu. Kalau ingin bertemu mahasiswi Indonesia, seandainya di masjid nanti tidak ada, namun semoga ada, insya Allah aku bisa bantu.”

“Terima kasih. Aku dengar dari paman, di Nasr City banyak mahasiswi Indonesia.”

“Benar. Mahasiswa Asia Tenggara mayoritas tinggal di sana.”

“Tadi kau bilang mau buat proposal tesis. Boleh tahu rencananya tema apa yang hendak kau garap?”

“Mungkin Metodologi Tafsir Syaikh Badiuz Zaman Said An-Nursi.”

“Ulama pembaru dari Turki itu?”

“Benar.”

“Pasti akan sangat menarik. Kebetulan keluarga kami di Turki adalah pengikut setia jamaah Syaikh Said An-Nursi rahimahullah.”

“Aku tahu, Eqbal Hakan pernah cerita padaku.”

“Di rumahnya banyak buku-buku karangan Syaikh An-Nursi.”

“Ya. Suatu saat aku akan ke sana jika aku perlu data tambahan.”

“Apa kau yakin sekarang tidak perlu data tambahan?”

“Untuk sekadar proposal mengajukan judul, konsepnya sudah matang dan tinggal saya ketik. Saya sudah punya empat ratus referensi. Jika diterima oleh tim penilai, barulah perlu bahan selengkap-lengkapnya untuk penyusunan tesis.”

“Semoga diterima. Jika kelak tesismu jadi siapa tahu bisa diterbitkan di Turki.”

“Amin.”

Metro sampai di mahattah Dokki.

“Kita turun?” tanya Aisha.

“Tidak, mahattah depan. Tapi tidak ada salahnya siap-siap.”

Kami beranjak ke dekat pintu. Kami berdiri berdekatan. Di kaca pintu metro aku melihat bayanganku sendiri. Sama tingginya dengan Aisha. Mungkin aku lebih tinggi sedikit. Satu atau dua sentimeter saja. Metro berjalan lagi. Tak lama kemudian sampai di mahattah El-Behous. Antara mahattah Dokki dan mahattah El-Behous jaraknya memang tidak terlalu jauh. Keduanya masih dalam satu kawasan, yaitu kawasan Dokki.

Metro berhenti. Kami turun. Mahattah El-Behous berada sekitar dua puluh lima meter di bawah tanah. Dengan eskalator kami naik ke atas. Kami keluar ke permukaan seperti vampire keluar dari sarangnya di siang bolong. Sinar matahari terasa sangat menyilaukan. Panasnya menyengat dan menyiksa. Cepat-cepat kuambil kaca mata hitam dari tas cangklongku. Lumayan, untuk menyejukkan kornea mata. Aku berjalan dengan langkah cepat menuju Mousadda Street.

Aisha mengimbangi langkah dua meter di belakangku. Kami diam seribu bahasa. 11.30.14 waktu Cairo, kami tiba di Masjid Indonesia yang tak lain adalah lantai dasar sebuah gedung yang disebut Sekolah Indonesia Cairo atau biasa disebut SIC.

Lantai dasar itu cukup luas dan benar-benar layak disebut masjid. Beberapa kali Bapak Duta Besar Indonesia di Cairo mengundang diplomat negara lain yang muslim untuk shalat Jum’at di masjid ini. Dari gerbang masjid aku menangkap suara riuh anak-anak mengeja Al-Qur’an. Mereka adalah putera-puteri para pejabat KBRI yang belajar mengaji dibimbing oleh mahasiswa dan mahasiswi Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar. Kupersilakan Aisha masuk.

Kulihat ada dua kelompok anak-anak mengaji. Di sebelah selatan dekat mihrab, kelompok putera dibimbing oleh Fathurrahman dan Hasyim, keduanya mahasiswa Al Azhar yang mengabdikan diri menjadi takmir. Di sebelah utara, kelompok puteri dibimbing oleh seorang perempuan bercadar, aku tidak tahu namanya dan seorang mahasiswi yang aku kenal yaitu Nurul, Ketua Wihdah. Diam-diam aku salut pada Nurul. Meskipun ia jadi ketua umum organisasi mahasiswi Indonesia paling bergengsi di Mesir, tapi ia tidak pernah segan untuk menyempatkan waktunya mengajar anak-anak membaca Al-Qur’an. Setelah bersalaman dengan Fathurrahman dan Hasyim, kuajak Aisha menemui Nurul yang sedang mengajar, dan beberapa kali melihat ke arah kami. Mungkin ia heran melihat aku datang bersama seorang perempuan bercadar. Selama ini aku dikenal tidak pernah jalan bersama seorang perempuan mana pun.

Kukenalkan Aisha pada Nurul dan Nurul pada Aisha. Kujelaskan siapa Aisha pada Nurul dan kujelaskan siapa Nurul pada Aisha. Nurul menyambut Aisha dengan senyum mengembang. Setelah mereka berbincang beberapa kalimat, barulah aku minta diri pada mereka untuk mempersiapkan khutbah. Sebelumnya aku jelaskan pada Aisha jika masih ingin berbincang, selepas shalat Jum’at ada waktu, meskipun sebentar.

Meskipun telah mandi, aku merasa perlu mandi lagi agar segar kembali. Musim panas selalu membuatku ingin mandi berkali-kali. Aku langsung ke ruang takmir yang tidak asing lagi bagiku. Melepas pakaian ganti sarung dan mandi. Masjid ini bisa dikatakan sangat lengkap peralatannya. Mulai dari peralatan ibadah, sound system, dan lain sebagainya. Bahkan peralatan dapur pun ada. Masjid memiliki dapur yang integral dengan dapur SIC. Memang kelebihan materi jika dialirkan untuk ibadah membuat segalanya jadi indah. Usai mandi aku kembali ke kamar takmir. Hasyim meminjamkan sarung baru, jas, serban dan kopiah putih. Aku memang sudah memesannya Jum’at yang lalu. Hasyim sudah paham, di antara sekian banyak mahasiswa yang mendapat jadwal khutbah hanya aku yang paling aneh. Datang memakai pakaian santai. Mandi dan merapikan diri di masjid. Sebab perjalanan dari Hadayek Helwan sampai Dokki cukup memakan waktu. Aku tidak mau ribet.

Pukul 12.00 pengajian anak-anak selesai. Pukul 12.20 Hasyim membaca Al-Qur’an dengan mujawwad menunggu jamaah datang. Pukul 12.35 ritual ibadah shalat Jum’at di mulai. Bapak Duta ada di barisan ketiga. Beliau datang agak terlambat. Tema khutbah yang diberikan takmir kepadaku adalah ‘Indahnya Cinta Karena Allah.’ Selesai pukul 13.20. Kami lalu makan bersama di belakang masjid. Menunya adalah Coto Makasar dan Es Buah.

Usai makan aku mendekati Aisha dan Nurul untuk pamitan. Kutanyakan pada Aisha apa masih ada yang bisa kubantu. Sebuah pertanyaan basa-basi. Dia bilang tidak. Kutanyakan apa mau pulang bersama. Sebab jalurnya sama. Sekali lagi sebuah pertanyaan basa-basi. Dia jawab masih ada yang dibicarakan dengan Nurul. Lalu Aku teringat Noura.

“Nur, bagaimana kabar Noura?”

“Dia sudah mulai dekat dengan kita-kita dan bisa tertawa.”

“Dia cerita tentang dirinya nggak?”

“Ya. Tapi baru sebatas sekolahnya.”

“Tentang perlakuan keluarganya padanya?”

“Belum.”

“Tolong dekati dia. Sepertinya dia memendam masalah serius. Perlakuan keluarganya selama ini tidak wajar. Kata Tuan Boutros, kita tidak akan bisa membantu kalau dia tidak jujur menjelaskan masalahnya. Kenapa malam-malam sampai dicambuk dan diusir ayahnya. Dia cerita pada Maria, ayah dan dua kakak perempuan menyuruh dia melakukan suatu pekerjaan yang dia tidak bisa melakukannya. Pekerjaan apa itu? Dan kenapa dia tidak bisa melakukannya? Apa masalah dia sesungguhnya. Kalau ayahnya menuntut dia harus kerja untuk dapat uang, Madame Nahed, ibunya Maria menawarkan dia bisa kerja di kliniknya sore hari. Tolong Nur, kau dekati dia dan bicaralah dari hati ke hati. Aku paling tidak tahan kalau melihat ada orang tertindas dan menderita di depan mataku.”

“Insya Allah Kak.”

“Oh ya, ini, untuk biaya makan Noura satu bulan. Semoga cukup,” aku mengulurkan amplop yang baru kuterima dari takmir.

“Tidak usah Kak.”

“Sudah jangan pakewuh. Kita sama-sama mahasiswa. Kita makan juga iuran. Kalau uang dapur ngepres kita juga ketar-ketir. Ayo terimalah! Apalagi Noura orang Mesir, dia tidak bisa selalu makan masakan kalian. Dia harus makan makanan Mesir dan itu perlu biaya ‘kan? Terimalah!” Akhirnya Nurul mau menerimanya.

Bagaimana mungkin aku yang sudah merepotkan mereka masih juga membebankan biaya pada mereka. Dakwah ya dakwah. Ibadah ya ibadah. Tapi elokkah ongkos dakwah dan ibadah dibebankan orang lain?

Aku jadi teringat sepenggal episode perjalanan hijrah Nabi. Ketika akan berangkat hijrah ke Madinah beliau diberi seekor onta oleh Abu Bakar. Namun beliau tidak mau menerimanya dengan cuma-cuma. Beliau mau menerima dengan syarat onta itu beliau beli. Abu Bakar inginnya memberikan secara cuma-cuma untuk perjalanan hijrah Nabi. Tapi baginda Nabi tidak mau beban sarana dakwah dipikul oleh Abu Bakar yang tak lain adalah umatnya. Baginda Nabi tidak mau menggunakan kesempatan pengorbanan orang lain. Abu Bakar punya keluarga yang harus dihidupi. Dakwah harus berjalan profesional meskipun pengorbananpengorbanan tetap diperlukan. Dan Nabi mencontohkan profesional dalam berdakwah. Beliau tidak mau menerima onta Abu Bakar kecuali dibayar harganya. Mau tak mau Abu Bakar pun mengikuti keinginan Nabi. Onta itu dihargai sebagaimana umumnya dan Baginda Nabi membayar harganya. Barulah keduanya berangkat hijrah. Itulah pemimpin sejati. Tidak seperti para kiai di Indonesia yang menyuruh umat mengeluarkan shadaqah jariyah, bahkan menyuruh santrinya berkeliling daerah mencari sumbangan dana dengan berbagai macam cara termasuk menjual kalender, tapi dia sendiri cuma ongkang-ongkang kaki di masjid atau di pesantren.

Ketika seseorang telah disebut ‘kiai’ dia lalu merasa malu untuk turun ke kali mengangkat batu. Meskipun batu itu untuk membangun masjid atau pesantrennya sendiri. Dia merasa hal itu tugas orang-orang awam dan para santri. Tugasnya adalah mengaji. Baginya, kemampuan membaca kitab kuning di atas segalanya. Dengan membacakan kitab kuning ia merasa sudah memberikan segalanya kepada umat. Bahkan merasa telah menyumbangkan yang terbaik. Dengan khutbah Jum’at di masjid ia merasa telah paling berjasa. Banyak orang lalai, bahwa baginda Nabi tidak pernah membacakan kitab kuning. Dakwah nabi dengan perbuatan lebih banyak dari dakwah beliau dengan khutbah dan perkataan. Ummul Mu’minin, Aisyah ra. berkata, “Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an!” Nabi adalah Al-Qur’an berjalan. Nabi tidak canggung mencari kayu bakar untuk para sahabatnya. Para sahabat meneladani apa yang beliau contohkan. Akhirnya mereka juga menjadi Al-Qur’an berjalan yang menyebar ke seluruh penjuru dunia Arab untuk dicontoh seluruh umat. Tapi memang, tidak mudah meneladani akhlak Nabi. Menuntut orang lain lebih mudah daripada menuntut diri sendiri.

“Nanti kalau ada apa-apa, atau ada yang kurang bilang saja. Juga kalau Noura sudah menceritakan masalahnya, langsung kontak secepatnya!” kataku pada Nurul. Nurul mengangguk. Aku minta diri. Aku berdoa semoga masalah Noura segera selesai dan gadis malang itu tidak lagi menanggung derita yang mengenaskan. Bagaimana mungkin seorang ayah tega menyambuk anak gadisnya sampai mengelupas punggungnya. Di mana rasa kasih sayangnya? Apakah dia tiada pernah mendengar sabda nabi, siapa yang tidak memiliki rasa kasih sayang dia tidak akan disayang oleh Allah?

* * *

Dari El-Behous aku langsung ke Attaba. Aku harus mencari hadiah untuk Madame Nahed dan Yousef menyambut hari istimewa mereka. Meskipun sederhana, pasti akan jadi kejutan tersendiri, bahwa tetangganya dari Indonesia memberikan hadiah yang tiada disangka.

Aku ingat acara dunia wanita yang ditayangkan Nile TV. Di antara bendabenda yang disukai wanita adalah tas tangan. Kurasa tidak salah kalau aku menghadiahi Madame Nahed dengan tas tangan. Dan untuk Yousef aku akan belikan kaset percakapan bahasa Perancis dan kamusnya. Kuharap dia senang. Sebab dia pernah bilang jika kuliah nanti ingin mengambil sastra Perancis.

Attaba adalah pasar rakyat terbesar di Mesir. Semua ada. Harganya relatif lebih murah dibandingkan tempat yang lain. Meskipun begitu, seni menawar dan bergurau tetap penting untuk memperoleh harga miring. Orang Mesir paling suka dengan lelucon dan guyonan. Teater rakyat di Mesir sampai sekarang masih eksis, penontonnya selalu penuh melebihi gedung bioskop. Itu karena sandiwara humornya. Film Shaidi Fi Jamiah Amrika atau ‘Orang Kampung di Universitas Amerika’ adalah film yang sukses besar karena kocaknya. Mona Zaki bintang Lux Mesir itu tampil kocak di film itu. Aku sering mengumpulkan pepatah-pepatah kocak Mesir yang membuat orang Mesir akan terkaget dan tertawa saat kuajak bicara. Mereka akan terheran-heran aku dapat pepatah itu dari mana. Universitas Al Azhar tidak mungkin mengajarkannya. Pernah, seorang pedagang gendut yang kelihatannya enak diajak guyon kusapa dengan ‘Ya Kapten, kaif hal waz zaman syurumburum!” (Hei Kapten, apa kabar, zaman kok syurumburum (nggak jelas begini)) Ia kaget dan terheran-heran. Aku tertawa dia pun tertawa. Kata-kata syurumburum adalah kata-kata aneh. Cara menyapa aneh ini aku dapat dari seorang pemilik qahwaji(Kedai kopi) di Sayyeda Zaenab.

Ohoi, sebetulnya hidup di Mesir sangat menyenangkan. Penuh seni dan hal-hal mengejutkan.

Di toko tas dan sepatu milik seorang lelaki muda bermuka bundar aku berhasil membawa tas tangan putih cantik dengan harga 50 pound. Padahal di tiga toko sebelumnya tas yang sama merk dan bentuknya tidak boleh 70 pound. Itu karena guyonan renyah. Ketika berbincang-bincang aku tahu dia penggemar aktor komedi legendaris Ismael Yaseen. Kubilang padanya aku ini cucu Ismael Yaseen.

Lalu aku perlihatkan tingkah, mimik dan gaya bicara seperti Ismael Yasin. Dia terpingkal. Dan tas itu pun kena. Setelah dapat tas aku mencari kaset dan kamus untuk Yousef. Kutemukan yang murah di toko kaset Sono Cairo. Dalam perjalanan pulang di dalam metro ada anak kecil berjualan koran. Aku ambil dua, Ahram dan Akhbar El-Yaum.

Menjelang Ashar aku tiba di flat dengan tenaga yang nyaris habis dan darah menguap kepanasan. Benar-benar lemas. Rudi tahu aku pulang dan sangat kelelahan. Ia membawakan segelas karikade dingin. Rasanya sangat segar. Meskipun Rudi orang Medan yang kalau berbicara tidak bisa sehalus orang Jawa, tapi hatinya halus dan penuh pengertian. Melihat bungkusan yang aku bawa dia penasaran. Ia minta izin membukanya. Dia kaget aku beli tas wanita.

“Untuk siapa ini Mas? Sudah punya calon rupanya? Diam-diam menghanyutkan. Tapi memang sudah saatnya. Oh iya, tadi Nurul nelpon. Janganjangan dia nih calonnya. Terus ini beli kaset percakapan bahasa Perancis segala, memangnya mau S.3. ke Sorbonne apa? Aku jadi ingat wawancara di bulletin Citra bulan lalu, Si Ketua Wihdah itu katanya juga sedang kursus bahasa Perancis di Ain Syams. Pas buanget. Benarlah kata orang Inggris, love and a cough cannot be hid. Cinta dan batuk tidak dapat disembunyikan!”

“Sudahlah Akhi. Aku lagi capek sekali. Nanti habis maghrib aku jelaskan semua. Tidak usah berprasangka yang bukan-bukan.”

Anak muda di mana-mana sama. Mataku sudah liyer-liyer. Rudi bangkit, “Akh, aku istirahat sebentar. Jam lima seperempat dibangunkan ya?”

“Kalau ada telpon dari Nurul bagaimana?”

“Sudah jangan terus menggoda.”

“Congratulation Mas. She is the star, she is the true coise, she will be a good wife!”

Anak ini kalau menggoda tak ada habisnya. Agak keterlaluan sebenarnya. Tapi aku malas meladeninya. Aku memejamkan mata. Tak perlu kutanggapi sekarang, nanti juga dia akan tahu yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: