Indahnya berprasangka baik


Mohon Maaf bagi yg udah pernah membaca…. ^_^) Indahnya Berprasangka Baik

Dua orang laki-laki bersaudara bekerja pada sebuah
pabrik kecap dan sama-sama tekun belajar Islam.
Sama-sama mengamalkan ilmunya dalam kehidupan
sehari-hari semaksimal mungkin. Mereka acap kali harus
berjalan kaki untuk sampai ke rumah guru pengakiannya.
Jaraknya sekitar 10 km dari rumah peninggalan orangtua
mereka.

Suatu ketika sang kakak berdo’a memohon rejeki untuk
membeli sebuah mobil supaya dapat dipergunakan untuk
sarana angkutan dia dan adiknya, bila pergi mengaji.
Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sebuah mobil
dapat dia miliki dikarenakan mendapatkan bonus dari
perusahaan tempatnya bekerja.

Lalu sang kakak berdo’a memohon seorang istri yang
sempurna, Allah mengabulkannya, tak lama kemudian sang
kakak bersanding dengan seorang gadis yang cantik
serta baik akhlaknya.

Kemudian berturut-turut sang kakak berdo’a memohon
kepada Allah akan sebuah rumah yang nyaman, pekerjaan
yang layak, dan lain-lain. Dengan itikad supaya bisa
lebih ringan dalam mendekatkan diri kepada Allah. Dan
Allah selalu mengabulkan semua do’anya itu.

Sementara itu, sang adik tidak ada perubahan sama
sekali, hidupnya tetap sederhana, tinggal di rumah
peninggalan orangtuanya yang dulu dia tempati bersama
dengan kakaknya. Namun karena kakaknya sangat sibuk
dengan pekerjaannya sehingga tidak dapat mengikuti
pengajian, maka sang adik sering kali harus berjalan
kaki untuk mengaji ke rumah guru mereka.

Suatu saat sang kakak merenungkan dan membandingkan
perjalanan hidupnya dengan perjalanan hidup adiknya.
Dia dia teringat bahwa adiknya selalu membaca selembar
kertas saat dia berdo’a, menandakan adiknya tidak
pernah hafal bacaan untuk berdo’a. Lalu datanglah ia
kepada adiknya untuk menasihati adiknya supaya selalu
berdo’a kepada Allah dan berupaya untuk membersihkan
hatinya, karena dia merasa adiknya masih berhati kotor
sehingga do’a-do’anya tiada dikabulkan oleh Allah azza
wa jalla.

Sang adik terenyuh dan merasa sangat bersyukur sekali
mempunyai kakak yang begitu menyayanginya, dan dia
mengucapkan terima kasih kepada kakaknya atas nasihat
itu.

Suatu saat sang adik meninggal dunia, sang kakak
merasa sedih karena sampai meninggalnya sang adik itu
tidak ada perubahan pada nasibnya sehingga dia merasa
yakin kalau adiknya itu meninggal dalam keadaan kotor
hatinya sehubungan do’anya tak pernah terkabul.

Sang kakak membereskan rumah peninggalan orangtuanya
sesuai dengan amanah adiknya untuk dijadikan sebuah
mesjid. Tiba-tiba matanya tertuju pada selembar kertas
yang terlipat dalam sajadah yang biasa dipakai oleh
adiknya yang berisi tulisan do’a, diantaranya
Al-Fatihah, shalawat, do’a untuk guru mereka, do’a
selamat, dan ada kalimah di akhir do’anya : “Ya,
Allah. Tiada sesuatu pun yang luput dari
pengetahuanMu. Ampunilah aku dan kakakku. Kabulkanlah
segala do’a kakakku. Bersihkanlah hatiku dan
berikanlah kemuliaan hidup untuk kakakku di dunia dan
akhirat.”

Sang kakak berlinang air mata dan haru biru memenuhi
dadanya, tak dinyana ternyata adiknya tak pernah
sekalipun berdo’a untuk memenuhi nafsu
duniawinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: