salam cinta dari negeri kinanah


Coretan Kecil Dari Negeri Kinanah Sep 26, ’06 2:19 PM
for everyone
Start: Sep 25, ’06 3:00p
End: Sep 25, ’06 4:00p

Cerpen Yang Dipersentasikan Di SBI, 11 September 2006

Musim Semi Ditengah Perjalanan *

Oleh : Wafie el-Majesty *

Senja semburat jingga telah mengukir kilauan permata diakhir siang. Tabir-tabir langit menjadi suram menyelimuti bumi. Bias mentari menutupi cadar ruas pelangi. Awan berkumpul menjadi satu. membentuk kabut hitam mengundang gelapnya kegelapan. Malampun hadir dengan senyum mesranya. Bawa sekeranjang mimpi pada sekeping hati yang dirundung sedih nan gelisah.

“ Duh… angin, kau hadir membawa kesejukan di malam ini “. Desahku.

Kemerlip bintang bergantungan diangkasa raya. Memancar bak elok percik air ditengah samudera. Sabit purnama melukiskan hati pada ketangkasan rupanya, menantang pekat dalam kebiusan petang. Sunyi mendendangkan kebisingan dikelopak malam, menghabiskan petang diujung siang. Sepi datang menjadi teman hati dalam merangkai arti kesunyian di malam hari.

Perjalanan malam terus mengukir sejarah ditubuh mentari. Melibas mistery dipangkuan sunyi. Sepi membungkam diri dalam kerajaan mimpi. Mengusik palung hati dalam pojok penantian malam ini.

“ Indahnya panorama di malam petang…! “ sebuah ilusy yang berkutat dalam imaginasi.

Lagi-lagi aku sendiri. Di saat payung malam sunyi berteman sepi. Hati menjadi sedih, ketika secercah kerinduan memanggil pujaan hati di bumi pertiwi.
Entah kenapa hati menjadi sedih. Kala auranya kembali terpancar dipelopak mata. Akankah sekeping kerinduan terus bertalu mengajak ingin bertemu, ataukah keagungan cintanya membuat jiwaku selalu memanggil namanya?

“ Oh malam…!!! “. Rintihku di saat keheningan menyelumuti diri.

Aku tak tahu, tapi bantu aku. Untuk hadirkan dia dalam pelukan mesramu, agar sekeping kerinduan ini menjadi obat hati.
Aku ingin bercumbu dengannya. Seperti bercumbunya purnama dengan sang bintang ditengah kegelapan malam.
Aku ingin menobatkan kesedihan ini diatas mangkok sejarah. Agar kesedihan ini menjadi ukiran indah dalam peradaban dunia.

***

Ayam berkongkok di atas pohon palem. Menandakan tibanya sang fajar akan menjemput siang. Mentari pagi-pun tersenyum karena dapat meniduri sang malam diujung petang. Kembali membawa dunia pada cahaya yang terang menderang. Sinarnya menghias keseluruh pelosok bumi. Menerangi sisa-sisa kegelapan yang ditinggal oleh sang malam.

Kicau burung bernyanyi dengan riang. Seolah sejak tadi malam ia menunggu hadirnya bias-bias mentari di pagi hari.
Bunga mulai pada bermekaran diterpa sinar mentari. Baunya menerawang keseluruh isi bumi. Semua penghuni bumi pada terpesona dengan kedatangan musim semi menghias pagi ini. Anak adam pada kerepotan melukis keindahan musim semi. Semua mencatatnya pada pena sejarah yang tak akan luntur dalam perjalanan dunia.

“ Musim semi ditengah perjalanannya datang dengan sejuta ke-elokannya “.

Dan mentari-pun beranjak siang. Kini cahaya telah sedikit panas menyelimuti bumi.
Namun tidak terlalu menyengat seperti di musim panas. Dimana kala itu kepala anak adam terasa seperti dipanggang di atas tungku api yang membara.
Tapi alangkah senangnya, cuaca saat ini terasa begitu adem ayem. Udara serasa sepoi-sepoi menghisap keringat di dada. Membelai manja keletihan raga.

Manusia pada berhulu balang, mencari nafkah untuk kebutuhan keluarga. Ada yang ke kantor, ada yang mengajar di sekolah dll. Sedangkan diriku hanya bisa merasa akan hiruk pikuk nafas manusia, sendu sedan yang bergemuruh di trotoar.
Pikiran terus saja terbayang-bayang raut wajah ayu nan pesona disebrang sana. Mengajak diri untuk bertaut pada semi yang beranjak mengisi hari.

“ Mungkinkah asam di gunung, garam di lautan akan bercampur dalam satu periuk? “. Tanyaku pada semi yang berjalan mengiri matahari menerangi bumi.

Tak terasa lamunanku pada kecantikan gadis yang kupuja saat ini, mengantarkan matahari perlahan membentuk sapuan warna di langit barat. Salam terakhirnya di hari ini untuk penghuni bumi. Barangkali ia sudah lelah berkelana dan ingin tidur nyenyak dalam belaian mesra sang juwita malam.

***

Malam mengendap di penghujung gelap…
Kini aku sendirian diterpa keremangan sinar bulan. Bayangan pepohonan membuat suasana jadi seram. Untung ada beberapa titik bintang di langit petang membentuk percikan sinar keteduhan. Dan sang malaikat yang mengusir setan dengan panah-panah kebesaranNya.

Udara malam ini berhembus dengan sepoinya. Bawa kesejukan pada dunia yang tersiram oleh hawa panasnya matahari. Kini malam seperti menyulam lautan es. Kesejukan udaranya membuat jiwa-jiwa yang terbakar busur asmara, menjadi padam oleh jubah kesejukan udara malam musim semi.

Hawa panas telah berganti kesejukan. Semilirnya angin menjadi kipas raksasa. Mengitari seluruh jagat raya. Mengisi ruang kosong dalam hamparan fatamurgana. Menghempas ranting-ranting cemara tuk bergoyang menikmati keindahan di malam musim semi ini.

Sedang diriku yang tidak bisa jauh dari keanggunan sikapnya. Membuatku larut dalam dekapan kasih sayangnya. Dia telah menjadi musim semi ditengah perjalananku menggapai sebuah impian hati.
Jika dia didekatku hidup ‘kan menjadi lebih berarti. Dan kesehari-harianku akan terus bersemi. Seperti berseminya bunga melati diterpa sinar mentari pagi. Seperti berseminya musim semi ditengah perjalanannya mengisi ruang bumi.

Dingin telah bergulir merajuk semi yang membentuk dimensi dalam palung hati. Lantaran kekasih hati terlalu jauh mata untuk memandang. Bercumbu dalam dekapan rindu. Hanya pekat di dada, membawa sekeranjang asmara pada si dia yang kucinta. Ku terlelap saat semi mengajakku berjalan menapaki hari dipangkuan mentari pagi. Menikmati udara sejuk ditepian sungai nil.

***

“ Nil yang binal “. Begitu dalam cerpen yang pernah kubaca.
Dan tidak tahu siapa pengarangnya karena aku lupa. Tapi aku bangga karena kepiawiannya membuat kandungan makna menjadi kata-kata indah.
Perpaduan katanya, membawaku pada ke-elokan rupa airnya yang terus mengalir kesemenanjung muara. Kejernihannya memantulkan keteduhan bias purnama. Gemerciknya berpadu dengan kemerlip bintang di angkasa raya.

“ Wahai nil yang binal….”. panggilku dengan meniru kata dalam sub judul cerpen itu.

Mampukah engkau membawa surat cintaku dalam genangan airmu yang mengalir ke sudut taman impian. Seperti halnya kau bawa hanyut peti Musa pada istri sang raja. Agar kesedihan yang terus bertalu mengusik palung hati. Berganti nyanyian musim semi ditengah perjalanannya menjelajahi bumi. Dengan dihias remang purnama di malam petang. Dan warna-warni pelangi dalam bias mentari di pagi hari.

“ Karena ku ingin, sungai nil adalah muara bagi pendayung membawa sepucuk rindu buat pemilik wajah ayu “.
“ Karena ku berharap, pengembaraanku di tengah perjalanan musim semi sebagai perahu layar mengarungi dermaga orang yang kucinta “.
“ Agar aku dengannya, menjadi dua sepasang merpati perpadu kasih digulatan warna pelangi “.

“ Oh Tuhan…mungkinkah itu ‘kan bersemi. Seperti berseminya musim semi ditengah perjalanannya di bumi kinanah ini “. Desahku, menutup semburat petang diujung malam.

Larut dalam kesedihan, kala musim semi ditengah perjalan
30 Agustus 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: