salam cinta dari negeri kinanah


Terik panas matahari membakar bumi para Nabi. Memanggang bangunan-bangunan yang berdiri kokoh dan tegak, bagaikan hamba-hamba Allah yang terpanggang di dasar tungku neraka. Hanya diam tak bergeming pasrah. Jalan-jalan di ibu kota kairo menciptakan fatamorgana, menjadikan jalan-jalan itu bagaikan tergenang air kemudian menguap keangkasa.

Ramadhan kali ini jatuh pada musim panas. Tiga tahun sudah aku bertemu bulan Ramadhan di negeri kinanah ini. Bulan Ramadhan di negeri fir’aun terasa hidup. Hamba-hamba Allah yang beriman khusyuk beribadah kepada-Nya. Para pemburu ridho Allah memenuhi masjid mendekatkan diri kepadaNya. Para pecinta al-Qur’an melantunkan ayat-ayat indah dan menyelami maknanya. Suasana dan lingkungan yang benar-benar mendukung dalam beribadah.

Namun itu semua tak membekas sama sekali dihatiku. Tidak ada yang istimewa dalam pandanganku. Semua itu hanyalah hak dan kewajiban seorang hamba kepada Dzat yang di imaninya. Bagiku hanya ada dua pilihan, yang taat silahkan mematuhi perintah dan larangan-Nya sedang kan yang ingkar silahkan melanggar aturan yang sudah ada.

***

“Dhan bangun, ayo…! Sahur.” Sahabatku ridwan membangunkan aku. Aku pun bangkit kemudian melihat jam bekker di meja belajarku. Jam sudah menunjukkan pukul 03.05 pagi waktu yang tepat untuk sahur, tidak terlalu cepat ataupun terlambat. Kamar mandi tujuan utamaku. Membasuh muka agar sedikit lebih segar kemudian makan sahur. Perut sudah terasa lapar. Menu sahur yang memikat selera makan, ada gulai ayam yang mengelitik lidah, ditemani tumis daun sawi dan gorengan bakwan. “Aah…kenyang wan. Hari ini enak banget masakanmu wan,” aku memuji ridwan sambil menghisap sebatang rokok ditanganku. “Halah-halah…make muji segala kamu Dhan. Kan masakanku emang enak dari dulu. He he he,” saut Ridwan tersenyum.

“Wan hari ini aku mau ke pasar hussain, ikut gak?,” aku mau nyari oleh-oleh untuk keluarga. “Lho kamu mau pulang Dhan?,” tanya Ridwan kaget. “Gak lah wan. Temen aku satu kampong, itu loh si Ghufron mau pulang, karena deket ya sekalian lah nitip.” Aku pun berlalu menuju kamar. “iya deh nanti aku ikut Dhan, tapi bangunkan aku yach… habis subuh aku mau tidur lagi.”

Aku belanja beberapa helai kaos untuk adek-adeku, dan juga tasbih koka buat orang tuaku. Di hussain aku tidak terlalu lama berkeliling mencari barang yang aku butuhkan. Aku kasihan dengan Ridwan. Ia terlihat capek. Cuaca hari ini memang panas. Kami berdua melepas lelah di masjid Sayyidina Hussain sekalian menunggu waktu dzuhur . “Dhan…setelah selesai sholat, kita kemana lagi?,” tanya Ridwan. “Kita langsung pulang aja Wan, supaya terkejar waktu berbuka.”

Akhirnya kami sampai dirumah. Ridwan langsung saja ke kamar mandi mencuci muka mendinginkan kepala yang rasanya sudah mendidih kepanasan. Kemudian ia tergeletak di kamar kelelahan. Sementara itu, aku masuk ke kamar. Kemudian terlihat Ridwan tertidur. Aku menuju dapur membuka lemari es. Lalu minum. “Ramadhan, kamu gak puasa lagi? Sampai kapan seperti ini terus?,” hardik suara hati kecilku. Aku pun tak menggubris teguran itu. Melakukan apapun sesuai kehendak hati. Dalam hati ku, hanya kegersangan jiwa yang aku rasakan. Tidak seorang pun yang tahu apa yang terjadi denganku. Semua ini merupakan reaksi atas kekecewaanku dalam menjalani hidup.

***

Tiga tahun sudah, aku melewati bulan suci Ramadhan tanpa berpuasa. Menjalankan sholatku tanpa keikhlasan. Semua yang tampak aku lakukan hanyalah formalitas belaka. Dihadapan sahabat-sahabatku, aku sosok yang ahli ibadah dan taat pada perintah-perintah-Nya. Mereka tertipu oleh penampilan luarku. Akupun menghisap sebatang rokok, karena Ridwan masih tidur, dia tidak akan tahu. “Ah termenung lagi.. aku harus masak udah jam setengah lima,” ketus batinku. Aku bergegas segera ke dapur memulai masak untuk berbuka puasa nanti.

Malam ini aku masih bertahan ikut tarawih. Walaupun itu terpaksa bagiku. Hanya sekedar ikut menyemarakkan jamaah tarawih. Mendengarkan tausiah-tausiah dijeda empat rakaat tarawih bagaikan angin lalu tak membekas dalam hatiku. Segala nasehat dan ucapan yang baik, hawa nafsuku terus menentangnya.

Aku berjalan menelusuri lorong gelap. Hanya hitam kelam yang tertangkap oleh mata. Berjalan perlahan-lahan mengikuti kehendak hati, tanpa tujuan. Beberapa kali aku terjatuh, entah benda apa yang selalu menghadang langkah pelanku. Bruuuk…! Ini yang ketujuh kali aku terjatuh hingga wajahku mencium tanah. Aku tersiksa sekali berjalan ditengah kegelapan. Mataku menangkap sebersit cahaya putih. Ternyata cahaya itu dari seorang kakek renta yang menggunakan jubah putih. Ia berjalan dengan sebuah tongkat untuk menopang tubuh rentanya ditangan kanan.

Kakek itu berjalan lambat sekali. Ada harapan bagiku, untuk sebagai teman satu perjalanan menelusuri lorong gelap ini. aku berlari kecil mengejar kakek itu. Namun, sampai tak kunjung jua aku dapat mengejarnya. Sampai aku merasa lelah. Aku berteriak memanggil kakek itu. Aku menangis memohon untuk tidak meninggalkanku sendirian. Aku meronta-ronta memelas. Tubuh sang kakek hilang ditelan kegelapan. Hingga sayup…sayup aku mendengar suara memanggilku.

“Dhan..Ramadhan…! bangun… bangun…, kamu kenapa?,” tubuhku digoyang-goyang oleh Ridwan. Aku bangkit kemudian terdiam. “Kamu kenapa menangis Dhan?! Teriak-teriak dan meronta seperti itu?” Aku masih terdiam. Memikirkan apa yang baru saja aku alami. Tubuhku terasa lelah. Air mataku basah membanjiri pipiku. Hanya sebuah mimpi namun begitu nyata di hadapanku. “Minum dulu Dhan, nih..,” ridwan menyuguhkan segelas air putih. “Kamu mimpi buruk yach?,” tanya Ridwan. “Nggak tau Wan…aku juga masih bingung, kenapa mimpi seperti itu.. rasanya ngeri sekali wan,” aku masih merinding penuh rasa takut.

Malam selanjutnya, aku pun bermimpi lagi. Kali ini aku mampu mengejar kakek itu. Kemudian menuntun aku menyelusuri lorong gelap. Hingga sampailah di ujung jalan yang bercabang dua. “Anak muda… aku hanya bisa mengantarmu sampai disini.” Kakek itu diam sejenak. “Anak muda… kamu mempunyai dua pilihan. Meneruskan perjalan ke kiri atau ke kanan. Nasibmu ditentukan oleh pilihanmu sendiri,” kakek itu berpesan. Aku memutuskan memilih jalan kekiri dan terus menelusurinya. Aku tidak mendapatkan apa-apa di penghujung jalan ini. Aku pun kembali. Kemudian aku mengikuti jalan cabang ke kanan. Namun, aku hanya menemukan jalan buntu. Kemudian aku terduduk lesu. Lelah. Pasrah tiada harapan dapat keluar dari tempat yang gelap gulita ini. Hanya kegelapan di sekeliling ku. Aku baru sadar kemana kakek itu pergi berpisah denganku? Ia meninggalkanku sendirian disini. Keherananku lenyap berganti rasa takut yang menyergap jiwaku. Aku semakin menggigil ketakutan. Tak dapat keluar dari lorong gelap ini.

“Dhan…! Ramadhan…! Ramadhan…! Bangun, bangun.” Aku dikejutkan oleh teriakan orang yang memanggil ku. Seketika akupun bangkit. Wajahku bercucuran keringat dingin. Suara itu ternyata suara Ridwan yang membangunkan aku.

***

Aku duduk termenung. Aku ingat kembali kejadian-kejadian dalam mimpi. Keadaan lorong gelap yang panjang, kemudian terdapat dua cabang lorong. ada sesuatu yang berbeda ketika aku memasuki dua lorong itu. Aku merasakan ini menggambarkan suasana hati ku saat ini. ketika aku memasuki lorong cabang kiri hatiku terasa nyaman dan tenang ketika aku memasuki lorong kanan, jiwaku terasa gersang. Dendam dan amarah yang bercampur dengan kegelisahan hati, kegersangan jiwa. Aku segera mengambil air wudhu, kemudian menunaikan sholat malam. Aku mencoba meresapi setiap bacaan dalam sholatku. Kemudian aku duduk berdzikir. Merenung kembali kejadian masa lalu yang membuat aku memusuhi-Nya. Hanya karena seorang wanita yang aku cintai, dikehendaki kembali kesisiNya lebih awal. Aku tidak terima dengan kenyataan hidup ini. Baru aku sadari, aku marah kepadaNya dan juga memusuhiNya merugikan diriku sendiri. Hatiku mati, jiwaku tandus. Hanya bagaikan mayat hidup yang berjalan diatas permukaan bumi.

“Wah..wah..wah… Dhan, dirimu hari ini terlihat cerah banget sih,” puji Ridwan.

“Wangi lagi,” sambungnya.

“Ah masak gitu wan, bukannya aku tiap hari tetap seperti ini?”

“Dhan… jangan-jangan kamu dapat anugerah lailatul qadar yach.”

“Ah sembarangan kamu ngomong Wan, masak orang kayak aku bisa dapat kayak gitu. Emangnya tadi malam 17 Ramadhan yach?.”

“Ya ampun Dhan…ya iyalah masak ya iya dong”. Jawab ridwan tersenyum.

Dalam hatiku berkata, “apa benar yang dikatakan Ridwan?” Memang pada hari ini hatiku terasa lebih leluasa. Lebih segar dan hidup. Serasa tanpa ada beban yang menghimpit. Aku menjalankan puasa hari ini karena berharap mendapatkan ridho-Nya. Rasa kesal, marah dan dendam ku kepada-Nya sama sekali tidak terasa. Hanya tasbih, tahmid dan takbir yang mengalun-alun dalam ruang hatiku.

Ada yang mengganjal dalam hatiku. Siapa kakek berbaju putih yang dua hari ini muncul dalam hatiku. Aku tidak mengenal kakek itu. suara kakek itu sangat istimewa sekali bagiku. Nada bicaranya yang halus namun menggetarkan. Terima kasih kakek, karenamu aku sadar. Bahwa selama ini aku menzalimi diriku sendiri. Dan mendurhakai-Nya.

***

Ridwan mengajak aku ke attabah untuk mengeposkan surat. Cuaca hari ini alhamdulillah tidak begitu panas. Setelah urusan Ridwan selesai kami sempat berkeliling dipasar. Hanya sekedar melihat-lihat. “Wan…ayo kita pulang, nanti nggak dapat mobil loh ke asyir.” Aku menegur ridwan. “Iya…dhan. Nggak terasa sudah sore. Ayo… kita ke mahattah.”

Kami berdua segera menuju kemahattah. Sore ini jalan disekitar pasar rame sekali kendaraan berlalu lalang. Aku agak takut untuk menyeberang. Ridwan membuka jalan untuk menyeberang. Ketika berjalan menuju ke mahattah, tiba-tiba aku terdiam. Mataku menabrak sesuatu yang membuat aku terperangah. Sosok tua renta berjemur ditengah panasnya matahari. Menjajakan dagangannya. Ia berjualan mainan anak-anak. Yang sedikit anak bisa menyukai mainan itu pada zaman sekarang. Dengan sabar ia menunggu pembeli menawar dagangannya. “wan tunggu sebentar yach…” aku bergegas mendekati kakek itu. ketika ia melihatku, senyumnya menyambut kedatanganku. Dia pun menawarkan dagangannya kepadaku. Aku membeli beberapa mainan dari kakek itu. ketika aku membayar. “Terima kasih kakek…”aku ucapkan kepadanya. Kemudian kakek itu tersenyum lagi, “Istiqamah” pesan itu mengalir dari bibir sang kakek dengan lirih. Akupun meninggalkan kakek itu. “Alhamdulillah ya Allah… Engkau pertemukan aku dengan kakek itu.”ucap syukurku. “lindungilah ia dibawah perlindunganMu.” doaku dalam hati.

Sisa Ramadhan pada tahun ini tidak akan aku sia-siakan. Teriknya matahari yang memanggang negeri seribu menara ini tidak meluluhkan niat dan ketulusanku untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Sholatku, puasaku dan semua ibadahku hanya untuk-Nya. Ramadhan kali ini bagaikan setetes embun yang menyejukkan hatiku.
Read More……

di 19:10 0 komentar

Sabtu, 2008 Juli 26
Buah kerinduan

Gemercik air kran kamar mandi yang tak tertutup rapat memecahkan heningnya malam yang dingin. Suasana yang sangat cocok untuk tidur nyenyak di bawah lilitan selimut tebal. Termasuk Rudi. Tidak dengan Adi, tubuhnya rebah diatas tempat tidur, namun matanya jauh menerawang langit-langit kamar menembus gelapnya malam, melewati bentangan samudra. Pasalnya ia teringat kampung halaman.

Jam menunjukan pukul satu lebih empat puluh limah menit dini hari waktu Kairo. Adi mahasiswa baru di Al-azhar. Baru saja ia selesai mengikuti ujian terakhir termin pertama sore tadi. Malam ini seharusnya menjadi malam tenang bagi mahasiswa yang study di Al-Azhar. Termasuk Adi, tapi tidak demikian dengan apa yang dirasakannya saat ini. Perasaannya begitu berkecamuk tidak tenang, resah dan gelisah. Rasa rindu begitu mendalam menerkam hatinya kepada ibunda tercinta
“Rud… ayo bangun! Sudah subuh, ayo sholat jamaah ke masjid!” ajak Mas Burhan sebagai senior di rumah itu sambil menggoyang-goyangkan tubuh Rudi.

“eeehhh… males ah… masih ngantuk mas” sambil menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.

“heee… kamu ini paling susah diajak sholat jamaah ke masjid!! Lihat teman-teman kamu! Adi, Yaldi dan Latif sudah berangkat sedari tadi”

“Iya mas iya… maafin Rudi” ia pun bangkit kemudian menuju ke kamar mandi untuk berwudhu.

Pagi itu memang sangat dingin sekali. Bagi yang imannya lemah cuaca yang seperti itu merupakan hambatan yang berat. Jangankan menyentuh air untuk berwudhu, berpisah dari selimut saja harus berpikir panjang. Namun tidak demikian dengan hamba-hamba Allah yang mengharapkan ridho-Nya, dengan ikhlas menjalankan apa yang sudah menjadi kewajiban menghadap Illahi Rabbi dalam lima waktu.

Rumah mereka memang dekat dengan masjid Shohabah di bawabah tiga. Mas Burhan sebagai senior yang sedang menempuh pendidikan di Al-azhar tingkat akhir Fakultas Ushuluddin berusaha untuk mendidik adik-adik tingkat yang tinggal bersamanya supaya mengamalkan sholat berjamaah di masjid.

Setelah sholat subuh, rumah itu terasa sejuk dan damai oleh lantunan ayat-ayat suci alquran. Seolah-olah itu sudah menjadi jadwal pembuka kegiatan mereka setiap hari. Terkecuali Latif hari itu, yang sedang berada di dapur menyiapkan sarapan pagi.

“Sarapan sudah siap…” teriak latif. “ayo makan! mumpung masih hangat…” sembari membawa nampan besar ke solah.

Mereka duduk melingkari nampan untuk bersiap-siap melahap sambal kentang dan tumis gargir yang masih panas, terlihat kepulan asap dari hidangan itu. “lho di mana Adi, kok gak ikut makan, Kemana dia Rudi?” tanya Mas Burhan, mengabsen semua adik-adiknya.

“Tadi dia ada di kamar, muroja’ah bareng saya”

“Adding kali…” celetuk Yaldi

“Ya sudah, Latif! Panggil, ajak dia makan!”

“Nggih mas”

“Di… Adi makan yuk… lho kenapa ga ikut makan? Leh kidza ‘am? Malah diam di kamar sendirian. Eh eh ehhh… Melamuuun lagi.” tegur Latif dengan menepuk pundak Adi. “sudah ditunggu yang lain lho. Ayolah makan…! Aku juga dah lapar, nanti sakit lho.” ajak latif.

“nanti ajalah, aku lom laper Tif. Kalian makan duluan saja”

“Aku masak enak lho pagi ini” promosi Latif

“Ya sudah nanti ambil sendiri aja di meja. Kami makan duluan.” Latif mengakhiri ajakannya.

-o0o-

Selembar foto terus dipandanginya. Terlihat senyum mengembang dibalik wajah sosok wanita yang telah berusia setengah abad itu, menunjukan kasih sayang yang terpancar untuk putra-putrinya. Wajah yang sangat Adi rindukan. Seorang ibu yang mengajarkan pentingnya cita-cita dan menanamkan dalam diri Adi akan tujuan penciptaan manusia untuk beribadah. Ibadah dengan arti yang luas.

Ia bersandar di dinding. Mencoba mengirim sms ke adiknya Yuli, jari jemari adi pun menari-nari di atas pet ponselnya merangkai kata menanyakan keadaan dan kabar keluarga di rumah. Bismillahirahmanirohim…message itu pun sudah terkirim. “uuhhh… astaghfirullah… pending lagi, ehhhhmm….kenapa sih kok gak ada yang terkirim” keluhnya bercampur geram. “ayah, ibu, dek Yuli. Kenapa sms-sms mas gak ada yang terkirim?” ia bertanya pada dirinya sendiri, kemudian tertunduk lesu.

“Adi… kenapa kamu nampak murung gitu. Madza khasola lak? Apa ada masalah yang kamu pikirkan. Liat tuh wajah kamu seperti belum tidur semalaman, kayak gak semangat hidup aja. Kenapa tho di?“ tanya Mas Burhan bijak.

“Gak kenapa-kenapa kok mas” Adi memaksakan senyumnya dan menatap wajah seniornya itu.

“Di… jangan bohong sama mas, sejak pulang dari masjid subuh tadi mas perhatiin sikap kamu gak seperti biasanya. Seorang adi yang penuh semangat dalam menghadapi hidup untuk mencapai cita-cita masa depan dan tidak pernah menyia-nyiakan waktu sedikitpun untuk hal yang bermanfaat, apalagi ngelamun”. Burhan pandangi wajah Adi mencoba mencari jawaban dibalik wajah yang tersenyum pahit itu. Burhan menghela nafas panjang, “Tapi hari iniii… kamu seperti orang gelisah dan menerawang jauh entah kemana, gak semangat. Kalau ada masalah dan sesuatu yang mengganjal hati Adi ngomong sama mas. Curhat gitu…” sesekali ia menghisap rokoknya. ”Barangkali setelah curhat perasaan Adi bisa plong. Gak kayak seperti ini, malah diam saja” Kata burhan.

“emmmm….. pasti Adi lagi kangen nih ma yang di Indonesia. Hayo… siapa di… ngaku saja deh biar aku smsin bidadari pujaan hatimu itu” goda yaldi yang sedang menyetrika baju.

“hus… jangan sembarangan ngomong kamu. Mbok yo di hibur wong lagi sedih. kok malah di goda” bela latif.

“ udah-udah jangan ribut!” tegur burhan. Seketika suasana rumah dipagi yang cerah itu hening. Mereka berkumpul dikamar adi. Mencoba menghibur adi yang dilanda sedih dan gelisah.

“mas burhan dan teman-teman semua. Adi minta maaf sudah menyita waktu antum semua” Ia pandangi semua teman-temannya. “Emmm….Sebenarnya adi rindu sekali pada ibu. Sudah tiga malam ibu datang dalam mimpi adi, beliau begitu memanjakan adi. Dalam mimpi-mimpi itu beliau selalu berpesan agar Adi lebih giat lagi belajarnya jangan sampai kecewakan Ibu”. Ia pandangi lagi foto di sela-sela lembaran buku diary. “Hal itu yang membuat Adi sangat rindu pada ibu. Tapi… rasa rindu itu bercampur perasaan yang tidak mengenakan. Adi gelisah karenanya”. Keluh Adi.

Burhan tersenyum melihat adek kelasnya sedang dilanda rindu pada kedua orang tuanya. “Adi… kamu sudah sms mereka belum? Tanya kabar gitu… “.

“sudah Adi sms mereka kok mas. Tapi gak ada yang terkirim, kayaknya nomor ponsel ayah dan adek yuli gak aktif”.

“Ya sudah…nanti mas menghubungi keluarga mas untuk silaturahim ke bapakmu dan menanyakan kabar mereka?”

“Di… gimana kalo kita nanti ba’da dzuhur jalan-jalan ke hadiqah dauliyyah refreshing setelah ujian, sekalian menenangkan pikiran kamu. Kalo kesorean dingin banget nanti.” Usul rudi teman satu kamar Adi.

“wah ide yang bagus itu, pikiran kita akan tenang liat wajah cewek mesir yang manis, bagaikan bunga-bunga yang bermekaran di musim semi indah dan berseri. Enak di pandang gitu” celetuk yaldi dengan penuh semangat.

“ya deh…” Adi tersenyum.

Ba’da dzuhur Adi dan kawan-kawan menuju ke hadiqah dauliyyah.

“Latif… kamu yach yang bayarin tadzkirohnya untuk kita semua. Kan hitung-hitung shadaqahlah pada kami. duitmu kan banyak. Jangan disimpan terus dimakan anai-anai lho” ledek Yaldi.

“gak mau ah, lagi bokek nih sorry deh lain kali ajalah”

“nih bayar sana jangan lama-lama yah” kata rudi sambil menyodorkan uang sepuluh pound.

Merekapun masuk ke Hadiqah. Banyak anak-anak kecil sedang bermain. Ada yang kejar-kejaran, main bola, juga ada yang sedang berfoto ria. Satu keluarga dari warga Mesir kumpul bareng dan makan bersama dibawah pohon besar nan rindang. Sungguh bahagianya mereka. Pemandangan yang sungguh indah. Pepohonan yang hijau rindang menambah rasa nyaman. Ini merupakan keunikan tersendiri. Taman yang subur ditengah-tengah gurun pasir. Berbagai jenis tanaman bunga terdapat didalamnya.

Menjelang maghrib mereka sudah sampai di rumah. Senyum mengembang diantara mereka. Begitu pula dengan Adi, raut wajahnya begitu berbeda dibandingkan pagi tadi. “eh eh eh… pada senyum-senyum nih. Senang ya jalan-jalan menjelang sore. Nah gitu Di… kan nampak semangat gak lesu dan muram kayak tadi pagi” sambut Burhan menyambut adek-adek tingkatnya yang baru pulang dari Hadiqah dauliyyah.

Pagi yang dingin, namun tetap tidak mematahkan semangat penghuni rumah baitul ilmi untuk menghidupkan pagi hari di bumi kinanah. Itulah nama rumah mereka baitul ilmi.

“Adi kamu dipanggil mas Burhan. Ditunggu di kamarnya mau ngobrol empat mata katanya”. Panggil Yaldi.

“ya sebentar” sahut Adi yang sedang menghapal Al-quran. “Ada apa sih Al, ga biasanya mas burhan ngomong sesuatau diantara kita pake rahasia”.

“Gak taulah di… mungkin perkara penting. ayo cepet kamu ke kamar mas burhan sana!” pinta yaldi.

“mas burhan tadi manggil Adi yach… Ada apa tho mas”. Tanya adi.

“Duduk dulu sini. memang ada yang mau mas bicarakan sama kamu”

“adi, kemarin ketika kamu pergi ma teman-teman ke hadiqah dauliyyah bapak kamu nelpon mas”.

“Apa…?! Bapak nelpon mas Burhan?? Kok bapak gak nelpon saya tho mas, gimana kabar mereka? Mereka ngomong apa?” tanya Adi dengan penuh harap.

“Adi kamu tenang dulu, mas lom selesai ngomongnya” potong burhan. “Di… kabar bapak dan adekmu sehat semua. Bapakmu nelpon ke mas karena…..” Burhan tidak meneruskan perkataanya.
“karena apa mas…?! teruskan dong…” pinta adi yang sudah mulai resah dan gelisah. “Kenapa mas…??!”. Burhan memeluk tubuh Adek kelasnya itu dan membisikan ditelinganya. “Di… ibu kamu sudah pergi meninggalkan kita” .

dengan perasaan yang Berat burhan mengucapkan kalimat itu. “apa mas…” adi tercengang, tersentak kaget iapun melepaskan diri dari pelukan Burhan. “oh… ga mungkin, ibu…ibu…” gelap terasa dunia dalam pandangan adi. Tertunduk lemah, ia pun menampar wajahnya sendiri. Untuk meyakinkan diri tentang apa yang baru ia dengar dari Burhan.

“sabar Di… kamu harus tabah” Burhan memeluk tubuh adek kelasnya itu. “kuatkan diri kamu. Relakan kepergian ibundamu, doakan beliau. kamu boleh bersedih tapi jangan sampai terlena dalam kesedihan” bisik Burhan ketelinga Adi. Kamu harus ingat pesan-pesan Bundamu dalam mimpi-mimpi kamu. Buktikan dan tunjukan apa yang menjadi harapan keluargamu terutama bundamu”.

Burhan bangkit, berdiri di hadapan Adi, kemudian memegang pundak adek kelasnya itu yang berduka. Berusaha menenangkannya. “ayo! sekarang kita sholat ghaib untuk bundamu. Nanti siang telpon ayahmu” Burhan mengajaknya untuk mengambil air wudhu. Merekapun sholat ghaib untuk ibunya Adi.

Adding = tambahan tidur pagi
Madza khasola lak? = Apa yang terjadi padamu?
Muroja’ah = mengulang kembali

by;agoes assiaki
Read More……

di 01:33 0 komentar

Dimana dia…?

Kadang kala aku bertanya
Dimana cinta berada
Tersembunyi
Tiada kunjung menghampiri
Dua angsa memadu rindu
Didanau biru bercumbu
Aku sepi
Ku sendiri
Letih hati
Begitu jauh waktu kutempuh
Sendiri mengayuh biduk kecil
Hampa berlayar
Akankan berlabuh hanya diam
Menjawab kerisauan

Kadang kala aku berkhayal
Seorang diujung sana
Juga tengah menanti tiba saatnya
Begitu ingin berbagi batin
Mengarungi hari yang berwarna
Dimana dia pasangan jiwaku
Mengejar bayangan kian menghilang
Read More……

di 01:30 0 komentar

Buronan Izrail

halilintar datang
menggelegar memekakan telinga
lukisan sebuah ayat

merinding berlindung
dibalik tirai sunyi
maut datang menghampiri

lari…cepat larilah!!!
teriakku…

gemetar bersembunyi
dalam keramaian
maut datang melambai

lelah…menyerah
pasrahku…

terompet pun selesai berbunyi
tangis dan senyum mengiringi
kembali kedunia hakiki

===============

Kutitip Cinta Pada-MU
Ditulis Oleh Okta Veldi Andika
Edisi 50

Kairo, Musim panas, angin bertiup kencang, Debu-debu berterbangan. Matahari betul-betul mengganas, tak ada satupun yang sanggup menghadang kegarangannya. Hari ini di Kairo sangatlah panas, bisa dikatakan, inilah puncak dari musim panas tahun ini, tak ada satupun masyarakat yang kelihatan bergairah dalam aktivitas mereka, namun dari kejauhan seorang pemuda yang sedang berdiri di atas apartemen, mencoba mengahadang terik mathari. Panas matahari tidak bisa merobah hatinya yang mendung, wajahnya teramat pucat. Kakinya kelihatan kaku berdiri membeku diatas imaroh, matanya tidak pernah kelihatan berkedip, selalu tertuju pada bangunan-bangunan yang mematung di hadapannya. Air mata tidak mau berhenti menetes di pipinya, perasaannya gundah, jiwanya dalam keadaan berkecamuk. Sesekali dia mengarahkan mata ke arah surat yang dipegangnya. Setiap kali matanya tertuju pada surat itu, maka tak pernah berhenti lidahnya mengucapkan lafaz istighfar. Surat itu adalah sebuah amanah dan pesan dari orang tuanya dua tahun yang lalu, ketika ia mau berangkat ke negeri Kinanah ini. Sebuah surat singkat yang berisikan:

Anandaku tercinta….

Bagaimana keadaanmunak…?bagaimana perasaanmu, saat-saat pertama kalinya kau menginjakkan kakimu di negeri ini, senang, sedih, atau mungkin biasa-biasa saja? Fikar..sekarang kita berjauhan, namun hakikatnya kau itu selalu dekat di hati Ibu dan Ayah, meskipun kepergianmu adalah sebuah beban bagi kami, sungguh berat rasanya melepas kepergianmu. Masih ingatkah kau nak, pahitnya hidup yang telah kita lalui? Kepergianmu ke Kairo ini beul-betul telah membuka mata Ayah dan Ibu… bahwa ini bukanlah sebuah mimpi di siang hari. Tapi sebuah kenyataan yang selama ini kami rindukan. Hanya dengan tetesan air mata, dan sebuah kebanggaan, dirimu kami lepas pergi menuju tanah impian, dan yang tak akan pernah terlupa… do’a yang selalu kami pinta, agar kau menjadi seorang yang berhasil.

Fikar, jangan sampai kau lupakan perjuanganmu selama ini, begitu juga perjuangan kami selaku orang tuamu. Jangan kau jadikan perjuangan ini hanya sebatas kenangan indah, yang kan membuatmu menangis di kala kau mengingatnya, tapi jadikanlah cambuk agar kau bisa meraih sebuah harapanmu. Jangan pernah kau balas perjuangan itu dengan harta yang melimpah, cukuplah dengan ilmu, dan jadilah kau penerang bagi orang lain.

Dan satu hal lagi Fikar, selama kau kuliah, jangan sampai kau memikirkan masalah pernikahan dulu! Kami bermohon kepadamu Fikar, kalau kau mencintai seorang gadis, maka itu adalah fitrah, tapi jangan sampai kau berlarut dan hanyut dalam cintamu itu. Gapailah dulu cita-citamu. Semoga saja kau bisa mengerti Fikar

Wasalam

Ibu dan Bapakmu

Tangisnya memecah dalam keheningan, terlontar kata-kata dari mulutnya yang menggema dia atas cakrawala. “Ya Allah ampunilah hamba, lindungilah hamba ,dan jauhkan hamba dari perbuatan yang akan mengundang azab-Mu “. Dia memekik di atas imarah yang menjulang tinggi itu.

Sementara jauh di padang sana, di saat yang sama, terlihat seorang gadis berparas cantik, berhidung mancung, alis matanya yang tebal, matanya yang sedikit sipit, sedang khusuk dalam munajatnya di malam yang teramat dingin ini, air matanya menetes membasahi pipi, dia mengungkapkan semua perasaan pilunya, memohon kepada sang khalik atas sebuah ketenangan jiwa. Lidahnya tak pernah berhenti mengucapkan lafaz do’a.

“Ya Allah berikan ketenangan dalam hati ini, begitu juga dengan kak Fikar. Tunjukkanlah kami jalan lurus-Mu, jauhkan kami dari azab-Mu”.

Dia adalah Farah. Seorang wanita yang selalu memberikan arti di setiap bait-bait kehidupan Fikar. Farah, namanya terlukis didalam jiwa Fikar, kehadiran Farah selama ini menjadi penyejuk di setiap kegersangan, dia laksana sebuah mata air di tengah tandusnya padang pasir. Farah wanita yang selama ini dinanti-nanti kedatangannya oleh Fikar, ia salah seorang calon mahasiswi yang akan berangkat ke Kairo nanti, keinginannya mengabdikan diri, menimbah ilmu, memenuhi harapan, dan menggapai cita-cita, serta mewujudkan sebuah impian orang tuanya.

Cinta memang sangat indah, dan hidup dengan penuh cinta adalah sebuah impian. Namun akankah ada keindahan, ketika cinta tak bisa digapai dan dimiliki, hanya menjadi impian untuk selamanya, dan hanya bisa ditemukan dalam angan- angan semu di setiap khayalan. Namun mungkinkah cinta akan membawa kedalam kesengsaraan, perasaan luka, duka, dan hancurnya, sebuah harapan?.

“Perasaan cinta..” inilah yang dirasakan oleh Fikar. Sebuah harapan ingin memiliki, dan hidup bersama gadis impian, seraya mendapatkan cinta dan mencintainya dibawah keagungan pemilik cinta. Cinta yang selama ini membuatnya selalu bersemangat. Dan cinta itu pula yang menemani dirinya dalam berjuang. Sampai akhirnya tibalah saat bagi dia untuk bisa memiliki cinta tersebut seutuhnya.

Fikar berkeinginan menjalankan dan mengamalkan apa yang telah di ajarkan oleh rasulullah Saw. untuk mengkhitbah dan menuai harapan untuk hidup bersama gadis yang selama ini menjadi bunga di hatinya. Akan tetapi ternyata, impian Fikar untuk hidup bersama gadis impiannya telah terhalang oleh sebuah duka yang melanda hati seorang wanita yang telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk Fikar, ia pun juga pernah berjuang antara hidup dan mati, semuanya demi Fikar. Begitu suci cintanya itu. Nyawanya pun tak akan segan ia korbankan untuk kehidupan Fikar. Tak akan ada lagi yang bisa menyayangi dan mencintai Fikar seperti itu, kecuali hanya ia seorang, yaitu ibunya sendiri.

***

Sebuah peristiwa yang telah mengguncang jiwa Fikar ini, bermula ketika kejadian dua minggu yang lalu, dimana Fikar pernah mengutarakan keinginannya kepada ibunya, bahwa dia ingin mengkhitbah gadis impiannya yang bernama Farah. Dan ini adalah kali keduanya bagi Fikar kembali mengulangi keinginan hatinya. Ketika pertama kali menyampaikan keinginan suci itu, ibunya ternyata belum siap, kalau anaknya membagi cinta dengan seorang wanita, waktu itu ibunya hanya mengingatkan supaya Fikar tidak memikirkan masalah khitbah dan pernikahan dulu, dan menyuruh agar ia konsentrasi dalam kuliahnnya. Dan dua minggu kemaren ibunya hanya bisa tersenyum dan mengatakan

” Anakku, kalau seandainya kau telah memikirkannya matang-matang, maka laksanakanlah”.

Meskipun dengan suara bergetar, dan hati yang sebenarnya berat menerima hal ini, beliau hanya mencoba memaksakan diri menerima keinginan anak yang selama ini menjadi tumpuan harapannya.

Namun ternyata hati tidak bisa dibohongi, ketidak-siapan ibunya menerima keputusan Fikar telah berakibat fatal, penyakit yang selama ini di derita ibunya kembali mengancam nyawa ibu yang dicintainya itu.

Asl. Kak Fikar apa kabar?ini Ditya kak! Kak saat ini ibu dirawat di rumah sakit, jantung beliau kambuh lagi! Jadi tolong kakak doakan supaya ibu cepat sembuh.

Sebuah pesan singkat telah menjadikan Fikar merasa dirinya adalah seorang makhluk yang tidak pantas mendapatkan kasih sayang, berlumur dosa, manusia yang hanya mementingkan ego, dan tidak pernah mengerti dengan perasaan orang tuanya sendiri.

Hal inilah yang membuat Fikar selalu merenung, meratapi kesalahan dirinya. Sebenarnya ia sudah tau, kalau ibunya keberatan menerima keingniannya, dan iapun sadar, bahwa ketika dia akan berangkat ke negeri Kinanah ini, ibunya memberikan sepucuk surat. Surat itulah yang kemaren dipegangnya di atas imaroh, dan telah membuat dirinya meneteskan air mata penyesalan. Keras kepalanyalah penyebab semua ini. Mungkinkah ia akan kembali memaksakan kehendak cintanya, mengabaikan harapan ibunya, cinta yang telah diberikan ibunya sungguhlah sangat suci, namun tak bisa mengalahkan cintanya kepada Farah, gadis yang menjadi bunga dalam hatinya.

Perasaan cinta memang tidak bisa ditepis. Namun terkadang haruslah bisa untuk dikorbankan. Itulah yang harus dilakukan oleh Fikar. Mengorbankan cinta demi sebuah cinta.

***

Waktupun berlalu, tanpa terasa. kejadian dua minggu kemaren tetap tidak pernah bisa dilupakan, selalu menjadi beban dalam kehidupan Fikar, dirinya selalu dihantui rasa bersalah, meskipun dia sudah mulai sedikit tenang dengan berita yang telah diterimanya sore kemaren, bahwa ibunya sudah keluar dari Rumah sakit, dan jantung beliau sudah normal kembali.

Fikar sangat mencintai Farah, namun cinta kepada ibunya juga tiada bandingan. Keputusan yang telah di ambilnya haruslah diurungkan kembali, bukan berarti menjilat air ludah yang sudah terbuang, tetapi inilah bukti pengorbanan cinta sucinya itu. Keberaniannya mengorbankan perasaan cinta. Betapa berat baginya melupakan cinta yang selama ini tertanam dalam dirinya, sungguh tulus cinta yang telah dia persembahkan untuk wanita yang dicintainya, namuan tidak mungkin dia juga melupakan sebuah cinta dari ibu yang telah melahirkannya, kasih sayang yang tak pernah berujung, dan tidak bisa di ukur,

***

Padang, 10 agustus 2007

Assalamualaikum.

Kak Fikar apa kabar? Sehatkan? Alhamdulillah Farah di sini juga dalam keadaan sehat. O… ya Kak, keberangkatan Farah ke Kairo tidak lama lagi, tidak terasa semua berjalan sangatlah cepat.

Kak, setelah sampai di Kairo, mungkin kita akan kembali bertemu. Namun andaikan nanti itu terjadi, anggapalah perjumpaan itu awal dari segalanya. Masalah kemarin lebih baik diurungkan lagi, karena tidak semua dari keinginan kita mesti bisa terjadi,boleh jadi Allah berkehendak lain. Mungkin ada hal yang lebih baik yang mesti di dahulukan, dan itu adalah harapan dan cinta orang tua. Maka mulai saat ini, mulailah kembali berkonsentrasi dengan kuliah Kakak, begitu juga dengan Farah, kita sama-sama berusaha memberikan sesuatu yang terbaik kepada orang tua.

Mengenai perasaan yang telah terjadi, memang tak dapat kita salahkan, tapi kita bisa menyimpannya sedalam mungkin. Sekarang saatnyalah menitipkan cinta kepada pemilik cinta, andaikan nanti Allah redha, maka Allah akan kembalikan cinta itu. Dan apapun yang akan terjadi nanti, itu semua adalah takdir yang terbaik bagi.

Mungkin hanya ini yang bisa Farah tulis buat Kakak. Maafkan Farah kalau ada salah.

Wassalam

Farah

Terlihat senyum mengulas di bibir Fikar, sebuah perasaan haru menyelimuti dirinya, kegundahannya mulai terobati, Farah telah memberikan kesejukan dalam dirinya. Kini perasaan Fikar mulai terobati. Terlihat dia menegakkan kepalanya mengahadap langit biru, air matanya pun menetes, namun wajahnya terlihat cerah, bibirnya bergerak melafazkan sesuatu;

” Ya Allah, engkau telah berikan jalan yang kupinta, izinkanlah aku menitipkan cinta ini kepada-Mu ya Robb, dan berikanlah hamba kekuatan menjalani ini semuanya, serta izinkanlah hamba memberikan sesuatu yang terbaik kepada orang tua hamba”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: